PT. DUTA BUANA MANDIRI
Your Preferred Energy Partner
> News > Detail

Trump Tanda Tangani Executive Order, Harga Batu Bara Menanjak

Saturday, 24 June 2017 at 17:22 WIB



Pada Selasa kemarin, Trump akhirnya memutuskan untuk langsung menandatangani Executive Order untuk mencabut batasan penggunaan dan produksi batu bara di Amerika. Apakah itu berarti sentimen positif untuk saham sektor batu bara? Lalu, mengapa Trump melakukan hal tersebut? Simak selengkapnya :

Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup menguat hingga 0,93% di level 5,592.51 hampir menembus level resistance kuat di 5600. Penguatan IHSG ini terutama didukung oleh net buy yang dicatatkan oleh asing sebesar Rp 932,96 miliar kemarin. Tingginya aksi net buy asing ini, diperkirakan akibat dari optimisme para investor global terhadap ekonomi Amerika, berkat rilis data tingkat kepercayaan konsumen yang ternyata jauh melampaui perkiraan, serta keinginan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga sebanyak 2 kali pada tahun ini.

Sementara itu, Dow Jones pada perdagangan hari ini ditutup mengalami koreksi sebesar 0,20% ke level 20,659.32, berbeda dengan EIDO yang masih terus melaju dengan penguatan hingga 0,54% ke level 25,95.

Pada 28 Maret kemarin, Trump telah menyatakan akan segera mengakhiri "perang harga batu bara" dengan menandatangani perintah eksekutif untuk segera menghilangkan batasan terhadap pemakaian maupun produksi tambang-tambang batu bara di Amerika.

Hal ini tentunya terkait janji Trump pada masa kampanyenya dulu untuk menggantikan beberapa kebijakan presiden terdahulu, Barrack Obama yang dianggap telah menghilangkan pekerjaan untuk ratusan ribu warga Amerika.

Pada masa pemerintahannya, Obama sadar betul akan pentingnya penggunaan energi alternatif yang bebas emisi serta ramah lingkungan. Hal ini akibat dari adanya isu pemanasan global yang dianggap mulai berdampak terhadap perubahan cuaca yang signifikan di berbagai belahan dunia.

Akibat hal tersebut, akhirnya Obama membatasi produksi dan pemakaian energi fosil, seperti minyak, gas alam dan batu bara. Hal itu akhirnya membuat sekitar 75.000 warga Amerika kehilangan pekerjaannya, akibat pemangkasan biaya dan tingginya kompetisi yang harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan tambang di Amerika.

Namun, semenjak pelantikannya, Trump sudah banyak mengubah peraturan mengenai pemanfaatan energi fosil tersebut, dan baru-baru ini menandatangani perintah untuk melepas batasan pemakaian dan produksi tambang batu bara. Berikut ulasannya.

Harga batu bara Saat Ini

Harga batu bara kontrak pengiriman Mei 2017 di ICE Futures Exchange naik 0,49% ke level US$ 80,85 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Bahkan dalam sepekan terakhir harga sudah menguat sebesar 1,12%.

Kenaikan batu bara ini juga dipengaruhi oleh harga minyak yang mulai bergerak naik setelah menteri minyak Iran Bijan Zanganeh kemarin menyatakan bahwa kesepakatan global terkait pemangkasan produksi cenderung akan diperpanjang. Selain itu, konflik bersenjata di Libya juga mengakibatkan berkurangnya produksi minyak negara tersebut sebesar 252.000 barel per hari (bph).

Sejak beberapa waktu terakhir harga batu bara cenderung konsolidasi dalam rentang sempit dan gagal menembus kembali ke atas level US$ 90 per metrik ton. Hal ini wajar mengingat kandasnya permintaan terutama dari China.

Dalam laporan terbaru National Bureau of Statistics konsumsi batu bara China sepanjang tahun 2016 merosot 4,7% dibanding tahun sebelumnya. Sejalan, laporan Energy Information Administration (EIA) konsumsi batu bara AS Februari 2017 turun dari bulan sebelumnya mencapai 64,69 juta ton menjadi 51,94 juta ton.

Meskipun menurun, harga batu bara tersebut masih terjaga, pasalnya terjadi penurunan produksi oleh China yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan. Sepanjang 2016 saja, produksi China turun 9% menjadi 3,4 miliar ton.

Katalis dari China masih akan mendominasi pergerakan harga batu bara. Apalagi mengingat koreksi yang dialami US$ juga turut menguntungkan pergerakan harga komoditas termasuk batu bara.

Selama masih terjadi tarik menarik sentimen di pasar global, harga batu bara berpotensi berada di atas level US$ 80 per metrik ton, yang setidaknya akan bertahan hingga awal April 2017 nanti. Kemungkinan ini terjadi mengingat pemerintah Beijing menetapkan larangan untuk membatasi jumlah produksi batu bara yang diterapkan bagi produsen berskala besar dan kecil termasuk di provinsi Shanxi dan Sha'anxi. Sehingga efeknya para produsen tersebut hanya bisa memproduksi 70% dari total produksi. Larangan ini berlaku hingga Maret 2017.

Meskipun sempat melemah pada pekan kemarin, harga batu bara pekan ini mulai rebound, yang diakibatkan sentimen dari Amerika terkait perintah Trump untuk menghapus larangan penggunaan batu bara di negeri paman Sam tersebut dan juga sentimen dari China tersebut.

Perintah tersebut masih belum disetujui oleh parlemen Trump, terutama akibat banyaknya penolakan dari para pemimpin dunia terhadap Trump akibat aksinya tersebut. Walau begitu, kenaikan minyak dan batu bara saat ini berpotensi menguat meskipun hanya dalam jangka pendek.

Sumber : detikcom